Kebenaran bisa ditutupi, tapi tak bisa ditolak. Penolakan atas kebenaran itu membohongi hukum alam. Padahal hakikat alam dan kebenaran ialah bebas dari kebohongan, meskipun kebodohan manusia bisa dikelabui olehnya.

View on Path

KERELAWANAN KITA

Potensi kerelawanan kita mendadak naik saat Ramadhan, Idul Fitri dan momentum keagamaan lainnya. Di Indonesia, potensi kerelawanan cukup luar biasa. Banyak orang rela mencurahkan dana pribadi demi sesuatu yang bersifat luhur baginya. Banyak orang yang ikhlas mengucurkan dana untuk sesuatu yang dianggap “menyelamatkan” “nanti”. Kerelawanan “tidak terstruktur” ini adalah potensi sekaligus ancaman.

Di tiap ruas jalan, banyak kita menyaksikan dentingan koin yang dilempar ke celengan pengemis, banyak pula anak-anak yang berjejer mengulurkan tangan di depan masjid setelah sholat selesai. Semua mengharapkan kerelawanan berbentuk uang.

Jika bisa dilakukan simulasi potensi rupiah yang berbasis kerelawanan ini, maka bisa triliunan rupiah dana terkumpul yang kelak bisa dikelola lebih baik (lagi).

Di banyak belahan dunia lain, model pengelolaan kerelawanan seperti ini sudah dilakukan secara terstruktur dan terlembaga. Chile adalah negara sukses mengelola potensi kerelawanan seperti ini, ada kelembagaan negara yang dibentuk dan bertugas mengelola dana kerelawanan.

Sayang, kerelawanan ini tidak dilihat sebagai sebuah potensi oleh Negara. Beberapa kelompok masyarakat sipil di Indonesia telah berupaya dan sukses, misalnya Dompet Duafa, ada pula yang unik Makelar Sedekah, dan banyak lembaga masyarakat yang bergerak di bidang ini.

Di sektor lain, ada gerakan Kitabisa.com, Berbagi Darah, Kelas Inspirasi, Indonesia Mengajar, 1000 Guru, Aksi Cepat Tanggap dan seabrek gerakan sosial lainnya. Semua adalah gerakan sosial yang berasal dari kelompok masyarakat sipil yang tergerak dan prihatin dengan keadaan bangsa.

Potensi ini luar biasa jika bisa dikelola secara terstruktur dengan agenda yang tertata dan mekanisme transparansi/akuntabilitas yang baik. Desainnya mesti berbasis pada prinsip governance ; keadilan, efektif, efisien, akuntabel, transparan, partisipatif. Saya memberi nama ; Volunterism Governance.

Tetapi, potensi kerelawanan yang berbasis pada suara hati, intuisi, tradisi dan moral ini jika tidak dikelola dengan baik tentu bisa saja menghasilkan potensi ancaman. Kerelawanan yang tidak didasari pada rasionalitas akan melahirkan kerelawanan yang bersifat “crowd”. Bagi yang punya niat negatif, tentu akan memanfaatkan “celah” kebaikan dan juga kerelawanan warga untuk kepentingannya. Di Gorontalo, pengorganisiran anak-anak dan ibu-ibu (yang tidak memiliki pekerjaan) bermodal proposal masjid sudah bertahun-tahun tidak bisa diatasi, bahkan ada yang membekingi ini. Kasus yang sama pernah terjadi beberapa tahun silam yakni korupsi dana Zakat dan Sedekah di salah satu lembaga amil dan zakat.

Selain menimbulkan potensi kecurangan, juga akan melahirkan sifat dan mentalitas negatif bagi kaum yang tidak punya (harta, sikap dan pekerjaan). Walaupun di beberapa momentum politik, ini menjadi bagian dari program charity politisi yang terkesan mendompleng pada agenda pengentasan kemiskinan. Lebih buruknya, negara malah mensponsori ini karena berkaitan dengan agenda politik.

Sebagai penutup, Ramadhan yang barusan lewat dan Idul Fitri yang sementara berlangsung ini mesti dijadikan momentum revolusioner untuk menata kerelawanan agar lebih bermaslahat pada umat dan bangsa. Potensi harus dikelola dengan lebih baik dan maksimal, agar kerelawanan tidak menjadi kerawanan.

View on Path

KEMANUSIAAN PASCA RAMADHAN

Jika kita ingat sawah, pasti kita ingat sapi dan kerbau. Kedua ciptaan Tuhan itu adalah “petugas” operasional dalam pertanian Nusantara. Sapi dan kerbau adalah ciptaanNya yang memiliki keterampilan berkomunikasi yang luar biasa. Keduanya bisa berkomunikasi dengan manusia di bidang pertanian secara intens. Intinya, sedangkan dengan kerbau dan sapi saja manusia bisa bekerjasama mengelola sawah, apalagi dengan sesama manusia.

Sapi dan kerbau tidak berpuasa di bulan Ramadhan, keduanya tidak menahan lapar dan haus. Keduanya tetap dalam mekanisme rutin biologis ; tetap makan dan minum setiap hari. Berbeda dengan manusia yang diberikan paket pelatihan intensif selama Ramadhan. Paket yang diiming-imingi bonus dan hadiah menjadi pemacu semangat untuk senantiasa melatih diri. Ramadhan adalah paket kurikulum khusus yang disusun untuk mewujudkan lahirnta manusia baru dengan standar kompetensi yakni memiliki kompetensi kemanusiaan yang lebih tinggi.

Ramadhan yang suci dan agung baru saja lewat. Paket pelatihan selama sebulan sementara dirayakan dengan gegap gempira bahkan ada yang merayakan dengan cetar membahana. Tapi, masing-masing pesertanya, selalu dilingkupi tetes kerinduan atas pelatihan itu. Memori selama pelatihan menjadi ingatan yang membekas. Air mata dan perasaan kehilangan menyatu. Ada yang merindukan dengan renungan, ada yang merindukan sambil khawatir dengan perasaan was was, jangan jangan ini pelatihan terakhir. Ada pula yang merindukan dengan bahagia dan merawat memori itu dengan menyiapkan perkakas memori seperti kursi baru, cat rumah baru, baju baru, dan semua yang dianggap sebagai penanda bahwa pelatihan “sepertinya” sukses dan wajib dirayakan. Masing-masing tak lepas dari usaha menandai kenangan itu. Bahagia maupun sedih.

Usai pelatihan, selalu ada evalusi berkala. Mulai besok atau lusa, akan dilihat dan dievalusi sama-sama bagaimana hasil pelatihan intensif selama sebulan ini. Akankah alumni pelatihan bisa menjadi manusia dengan kemanusian yang lebih baik dan benar? Ataukah malah sebaliknya, tetap sebagai manusia yang minus kemanusiaan, seperti sebelum masuk pelatihan intensif.

Memang soal taqwa adalah soal karunia, sebagaimana janji dalam pelatihan intensif itu. Taqwa adalah sesuatu yang “terberi”. Kita tidak berhak apalagi berwenang memasukkan diri di kategori yang nun jauh itu. Tapi, ada satu hal yang bisa kita tarik dalam diri, ini soal kemanusiaan yang paling minimal. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Itu adalah standar minimal dalam latihan bertaqwa. Apakah kita akan menjadi manusia yang bisa adil secara minimal? Apalagi beradab secara minimal pula? Ataukah malah minus keadilan dan malah menjadi kebiadaban?

Sapi dan kerbau adalah tantangan bagi kemanusiaan kita. Tanpa membedakan latar belakang, mereka siap bekerjasama, mengelola pertanian, memajukan ekonomi. Dibanding keduanya, perkakas diri kita lebih baik.

Dibanding solusi, jumlah dalam kehidupan sehari hari semakin naik. Solusi dan masalah tidak berada dalam satu garis, keduanya berjalan berbeda arah. Daftar solusi minim, daftar masalah semakin panjang. Pertanyaannya, apakah pada pasca Ramadhan ini, kita akan menjadi bagian dari solusi atas kerumitan hidup atau malah menjadi bagian dari masalah yang menambah kerumitan hidup?

Pasca Ramadhan, semua agenda masih dalam bentuk tanda tanya. Belum ada yang bisa menjawab pasti, apa hasil dari Ramadhan yang barusan lewat. Baik, buruk, atau lebih parah? Jawaban ada pada praktik kita setelah ini. Semoga pelajaran yang telah kita reguk di Ramadhan yang telah berlalu memperoleh berkah, menjadi penanda kebaikan dan perbaikan bagi kemanusiaan kita, untuk yang lebih baik dan pada akhirnya menuju benar.

View on Path